Tragic or ironic?
Soundless Voice
Cause time will pass me by
Maybe I'll never learn to smile
But I know I'll make it through,
If you wait for me...
Rahasia Mulai terkuak
POV – Author
Saat ini aku telah duduk bersama teman-teman baikku. Aku hanya melakukan migrasi sebentar ketempat terkutuk ini. Kau tahu mengapa terkutuk? Ini dikarenakan posisi tempatnya. Terpojok. Terbelakang. Dan berada disamping jendela besar yang membiarkan sang angin dengan bebasnya masuk keluar ruangan kelas kami untuk meruntuhkan iman kami untuk belajar. Aku bosan. Setidaknya itulah yang sudah keluar dari mulutku entah berapa kali semenjak aku memulai hari baru ku ini. Untuk menghilangkan sifat berdosa ini, kami melakukan diskusi kecil. Aku lupa bagaimana kami memulainya, tapi saat ini kami sudah terlibat pembicaran nostalgia tentang masa SMP kami. Pembicara kami saat ini namanya Kimberly. Kami berada di lingkungan SMP yang sama 2 tahun yang lalu. Sedangkan teman yang duduk disampingku, Tania dan Venna berasal dari sekolah yang berbeda. Saat ini yang merasa tertarik dengan cerita riwayat hidup Kimberly semasa SMP hanya dua orang. Aku dan Venna. Aku tertarik karena ini terjadi di sekolah yang pernah aku tempati selama kurang lebih 3 tahun. Dan entah mengapa aku tidak tahu soal kejadian ini. Sedangkan Venna, mungkin dia hanya ingin menghilangkan rasa bosan.
Cerita ini dirahasiakan. Itulah kesimpulan yang kudapat. Dan saat ini cerita itu sedang meluap dari permukaan. Aku tidak tahu ini karena Kimberly telah keceplosan atau dia tidak tahu bahwa ini seharusnya tidak boleh ada yang tahu. Tapi apakah kalian tahu? Ini adalah cerita paling romantis yang pernah kudengar. Aku akan membaginya denganmu. Rahasia atau tidak, biarlah ini menjadi cerita kenangan yang indah yang pernah terjadi di antara dua makhluk ciptaan Tuhan yang nasibnya bisa dibilang.. Ironis.
“Tiara, apakah kau masih ingat dengan kematian tragis kakak kelas kita waktu SMP dulu” tanya Kimberly dengan muka yang super serius
“Oh, kak Lena?” jawabku dengan mencoba menggali kembali kenangan masa transisi ku dari dalam otak
“Yupp..apakah kau tahu mengapa ia meninggal?” kali ini ada raut wajah bercanda dalam dirinya
Kimberly, bisa dibilang anak indigo. Dia bisa melihat arwah yang masih gentayangan di dunia karena masih tidak di terima di alam lain, baik di surga maupun di neraka. Entah apa yang lucu, tapi setiap kali dia menceritakan kisah hidupnya bersama Makhluk halus ini kami malah tertawa. Mungkin karena gaya berbicaranya yang santai dan terkadang dibumbui humor walau sedang berbicara hal yang serius. Kimberly malah telah diberi nama Tukang Pengusir Setan. Ya.. seperti namanya, jika kalian kemasukan atau sedang di Haunted, hubungi saja dia. Mari kita sambung bahasan sebelumnya
“Yang ku tahu, dia meninggal secara tragis” jawab ku dengan agak ragu. Bagaimana mungkin aku bisa mengetahui bagaimana cara dia meninggal, jika aku tahu, mungkin aku lah yang telah membunuhnya secara tak sadar.
Kimberly hanya menatapku dengan tatapan penuh informasi yang siap di eksplorasi kembali.
Mendengarkan dalam diam dan dalam keingin tahuan setiap kata yang keluar dari mulut Kimberly kemudian merekam nya dalam ingatan lalu menulisnya dalam lembaran kertas putih.
Satu persatu kata terukir diatas kertas yang tadinya putih dan sekarang telah penuh dengan berbagai kata yang mengukapkan betapa cerita ini merupakan skenario cinta terbaik yang pernah Tuhan sutradai dibumi yang Dia ciptakan dengan penuh kasih ini.
Dan beginilah cerita romantis yang penuh kasih ini dimulai....
Heaven keep secret
I wish, just one more time
To hear your voice
One more time, just one more time…
Say my name…
2007
Pertama dan terakhir
POV – Helena
Aku sekarang telah berada tepat di tengah-tengah lapangan sekolah. Dibawah matahari yang seakan sedang tersenyum melihat moment dibawahnya ini, Dihadapanku telah berlutut seorang laki-laki tampan, cerdas, baik hati dan... tidak ada lagi kata-kata yang bisa mengukapkan betapa sempurnanya orang yang telah mencuri hatiku ini. Dan bagaikan mimpi sekarang dia melakukan ini semua.
“Helena, aku menyukaimu, aku mencintaimu, maukah kau jadian denganku?” katanya dengan tatapan yang sangat serius. Dia tidak memegang tanganku seperti di film picisan romantis yang selama ini kutonton. Dia hanya berlutut diatas kedua kakinya di lapangan yang sepertinya sudah matang oleh sinar matahari, dan baru saja dia mengatakan sebuah kalimat yang paling ingin kudengar. Jika doraemon itu benar-benar ada, aku akan meminjam mesin waktunya untuk kembali kedetik pertama dia mengucapkan namaku dan merekam semua kejadian itu agar bisa ku ulang lagi dan lagi.
Tentu saja. Tentu saja tampan.
Aku hanya mengangguk. Dan... jadilah lingkungan sekolah kami ribut dengan sorak-sorai yang tadinya diam dalam ketegangan melihat ketua Osis mereka sedang menyatakan cinta dengan tulus.
Sekarang dia milik ku. Pacar pertamaku. Padahal ada banyak gadis anggun dan cantik yang dengan setia menjadi fans nya selama ini. Tapi mengapa dia memilihku? Atau mengapa dia tidak memilih kembaranku yang gayanya lebih modis dengan zaman ini?
POV – Xavier
Aku harus mengatakannya sekarang. Aku tidak mau dia di curi laki-laki lain. Aku mencintainya dan dia harus tahu itu. Dia telah berdiri dihadapanku sekarang. Katakanlah sekarang Xavier. Sekarang atau tidak selamanya.
“Helena, aku menyukaimu, aku mencintaimu, maukah kau jadian denganku?”
Seketika otakku terhenti. Apakah aku telah mengatakannya? Aku mencoba mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi itu. Aku melihat dengan dalam matanya dari bawah sini. Matahari, sinarmu telah kalah dengan kilauan yang keluar dari mata seorang bidadari yang sedang tersenyum merona di depanku ini. 3 detik.. ayolah..
4 detik... 5 detik berlalu.. suasana hening. Padahal ada beribu pasang mata di sekeliling kami.
Kalian tahu? Waktu memakan usia.. kumohon Helena.
Dan anggukan itupun terjadi dihadapanku.
Aku tersenyum lebar. Terima kasih Tuhan.
The soul to dare
And all the tears I cry,
No matter how I try,
They'll never bring you home to me
Won't you wait for me in heaven?
Kesalahpahaman
POV – Author
“Kak Helena memiliki saudara kembar namanya Alena” kata Kimberly dengan nada seperti seorang ibu yang sedang berdongeng untuk anaknya sebelum anaknya terlelap di dunia mimpi
“Ya aku tahu. Aku pernah berada di kegiatan Extrakulikuler yang sama dengan mereka” jawabku yang mengingatkanku dengan suasana saat aku berbicara dari salah satu diantara mereka. Aku tidak tahu saat itu yang berbicara denganku Kak Helena atau Kak Alena karena mereka berdua duduk bersama dan sebagai Junior aku belum terlalu kenal dengan mereka. Dia menanyakan beberapa hal padaku lalu membiarkan ku duduk kembali. Tidak seperti senior yang lain. Pasti ketika masa berlaku profesi sebagai wartawan sementara mereka ini habis, mereka akan berubah profesi menjadi Iblis yang bisa saja menyuruh hal yang tidak rasional pada adik tingkat mereka. Untunglah kakak perempuan ini tahu bahwa junior mereka ini memiliki urat malu yang tingkat ketebalanya sudah tidak bisa diprediksi lagi
“Walaupun mereka kembar. Mereka memiliki sifat yang berbeda” lanjut Kimberly
Kali ini lawan bicaranya hanya terdiam. Aku dan Venna tidak banyak komentar.
Melihat wajah kami yang telah penuh dengan rasa keingin tahuan Kimberly melanjutkan dengan sebuah kata yang berhasil membuat kami jatuh kedalam rasa penasaran yang tinggi
“Dan perbedaan inilah yang telah membuat sebuah kesalah pahaman yang fatal”
“maksudmu?”
“Orang tua kak Xavier telah salah mengira kalau pacar anaknya adalah Kak Alena”
Kak Alena dan Kak Helena. Walaupun mereka kembar, mereka memiliki pribadi yang jauh berbeda. Kak Alena adalah seorang remaja perempuan yang mengikuti perkembangan zaman. Dia memiliki sebuah geng. Sedangkan saudari kembarnya ini tidak, kak Helena malah sering mengingatkan agar Kak Alena tidak melenceng dari apa yang seharusnya. Kak Helena merupakan anak yang pintar. Ini bukan berarti saudari kembarnya bodoh. Mereka hanya berbeda sifat dan pembawaan. Kak Helena lebih kalem. Sedangkan Kak Alena yang telah terkontaminasi virus geng terdengar lebih sombong. Mereka memiliki paras cantik yang sama. Dan disinilah susahnya memiliki kembar identik dalam hal fisik.
Mama dari Kak Xavier salah mendapatkan informasi. Yang ia dengar Anaknya berpacaran dengan Kak Alena, yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan pacar anaknya yang sebenarnya. Ini membuat mamanya tidak setuju akan hubungan mereka dan menginginkan mereka untuk tidak melanjutkan hubungan mereka yang baru saja mereka bangun. Orang tua Kak Xavier berkonsulatsi dengan guru yang ada di sekolah kami dan terjadi lah sebuah rencana yang mereka tidak tahu akan konsekuensinya nanti.
Eternal Resilience
You are becoming cold
Your voice has not come back
We’ve given up understanding each other
Hear my voice, smile for me once more
I have ran out of tears
AWAL DARI KISAH YANG TRAGIS
POV – Helena
Apa yang telah ku perbuat? Mengapa aku sampai di panggil ke ruang BK?
Dengan rasa takut dan perasaan tidak enak aku melangkahkan kaki ku ke arah ruang yang paling tidak ingin aku masuki itu. Saat melewati ruang guru, Ibu Abigail memanggilku.
“Helena, sebaiknya kau turuti saja” katanya lembut dan dengan aura kecemasan
“Maksud ibu?” tanya ku dengan sedikit nada takut
“Sudah, kamu sudah ditunggu di ruang BK. Cepatlah kesana. Tapi pikirkan baik-baik ya Helena keputusanmu nanti” katanya dengan sorotan mata yang membuat jiwa ku sedikit ketakutan akan hal apa yang akan kuhadapi ini.
Xavier kamu dimana?
Sampailah aku didepan pintu yang lebih terlihat sebagai jalan masuk ke nereka bagiku.
Aku mengetuknya perlahan. Lalu membukanya. Dan seorang perempuan dan Ibu Sely menatapku secara hampir bersamaan. Siapa perempuan ini? Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun padanya. Tapi kenapa ia terlihat seperti nya marah sekali ketika melihatku?
“Duduk disini Helena” kata Ibu Sely dingin. Inilah yang membuat dia di takuti seluruh siswa disini. Walaupun dia masih berada di jarak yang cukup jauh, tapi siswa disini seakan sudah memiliki insting akan aura kegelapan yang dibawanya, merekapun langsung menjauh dari tempat tersebut. Tapi saat ini aku tidak bisa menjauh, walaupun aku sudah merasakan betapa aura itu ingin menerkam ku saat ini juga.
Kutatap wajah perempuan tadi. Tak kalah dengan Ibu Sely. Kata-katanya meluncur dengan dinginnya seperti gunung Es yang membeku abadi.
“Oh jadi dia..”
Apakah sekarang aku terlihat pucat? Jangan. Aku mohon. Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan dua monster ini. Tuhan kumohon kuatkanlah anakMu ini.
“Helena, ibu dan ibu ini ingin membicarakan sesuatu yang serius. Jadi mohon dengarkan baik-baik dan langsung buat keputusan mu hari ini juga”
Apa? Keputusan apa?
Aku hanya menunduk dalam diam. Seakan pasrah akan dimakan seekor buaya dan seekor hiu.
“Kau tahu Xavier?” kata perempuan tadi.
Ketakutan mendalam lebih menjadi-jadi didalam diriku.
“aku ibunya”
Mataku melotot refleks kearah perempuan tadi. Dia ibunya, dan dia terlihat marah kepadaku. Apa yang telah terjadi kepada Xavier?
“Kau pacaran dengan Xavier kan Helena?” ucap Ibu Sely tanpa menatapku.
Aku hanya menganguk dengan ragu
“saat ini kau harus membuat keputusan” kali ini dia menatapku tajam
Aku diancam?
Melihatku diam tanpa respon, dia melanjutkan pembicaraannya
“Kau putus dengan Xavier atau Jabatan Xavier sebagai ketua Osis akan dicabut juga pada saat ini dihadapan seluruh warga sekolah ini”
Deg.. rasanya suara jantungku bisa terdengar sampai jarak 1Km.
“Ma..maksud ibu??”
“Aku tidak mau anakku salah bergaul”
Maksud Ibu nya Xavier ini apa? Sebenarnya apa yang telah kuubah dari anak kesayangannya ini?
“Silahkan pilih” lanjut Ibu Sely yang tidak mau kalah dalam membangun suasana mengerikan yang sedang terjadi dalam ruangan ini ditambah dengan tatapan membunuh yang tak lepas dari diriku.
Apa yang harus kulakukan?
Xavier aku membutuhkanmu
POV – Xavier
Ada apa ini? Mengapa mama tidak mengizinkan aku sekolah hari ini? Ini aneh. Kenapa perasaan ku jadi tidak enak begini.
Dan wajah bidadariku tiba-tiba muncul di layar halusinasiku.
Kucoba meneleponya.. tapi suara yang keluar bukanlah suara perempuan yang sangat kucintai. Melainkan suara perempuan yang bekerja di operator tersebut yang berkali-kali mengatakan bahwa Handphone milik Helena sedang tidak aktif.
Semoga dia baik-baik saja. Tolong jaga dia ya Tuhan. Kumohon.
Besok aku akan menanyakan seluruh pertanyaan yang secara abstrak telah berada didalam otakku.
Kubuka mataku, dan burung-burung telah ramai berkicau diluar rumah. Seakan sedang mengosipkan sesuatu yang teramat sangat penting. Saat aku bangun, kepalaku terasa sedikit pusing. Mungkin ini karena efek kelelahan karena sibuk memikirkan tentang acara ulang tahun sekolah yang sudah dekat. Posisi sebagai ketua osis terkadang banyak menguras otakku. Tapi aku bersyukur karena posisi ini aku bisa berada lebih dekat dengan pacarku tersayang. Helena dan aku berada didalam satu organisasi yang sama. Setidaknya ini cara kami berkencan. Kami tidak bisa menghabiskan waktu yang banyak pada hari sabtu seperti pasangan yang lain. Sebagai seorang murid, kami memilih kegiatan ekskul yang berbeda, Helena memilih marching band, dan aku memilih Basket.
Kumulai hari ini dengan pertanyaan-pertanyaan yang dari kemarin telah bergentayangan di dalam otakku.
Saat sampai disekolah, aku tidak bisa menahan senyumku, ternyata bidadariku baik-baik saja dan saat ini dia sedang duduk sendiri di bangku taman. Suasana yang tepat, aku akan menanyakan semuanya dan aku mengharapkan jawaban yang memuaskan.
“selamat pagi Helena” kataku sambil tersenyum. Aku ingin sekali memeluknya. Sehari tidak melihat wajahnya sudah seperti 1 dekade bagiku. Tapi apakah itu akan terjadi? Memegang tangannya saja belum pernah bahkan di hari aku menyatakan isi hatiku padanya. Aku terlalu takut untuk melakukan semua itu. Aku takut... dia tersakiti.
Sapaan ku hanya dibalas dengan senyuman hambar dan dia kembali menunduk.
“Kamu kok pagi-pagi begini sudah cemberut? Senyum dong”
“Xavier, kita putus saja”
Kutukan apa ini? Hari yang baru saja akan kumulai dengan sukacita malah harus bermula dengan sesuatu yang sangat menyakitkan?
“Helena...” sebelum aku menyelesaikan kata-kataku dia telah beranjak pergi. Aku ingin sekali mengejarnya meminta penjelasan akan apa yang baru saja dia nyatakan kepadaku. Tapi kakiku tidak mau bergerak, kaki ini terasa kaku. Dan tanpa terasa aku pingsan.
Saat aku membuka mataku, semua serba putih dan kabur. Apakah ini surga? Pertanyaan bodoh dari seorang yang telah putus asa, atau lebih tepatnya putus cinta. Penyakit asma yang kuderita selama inilah yang menyebabkan ku seperti orang lemah. Dimana dia? Tidakkah dia peduli dengan keadaanku?
Aku memegang dadaku dengan erat. Ini bukan rasa sakit akibat asma yang kuderita, hatiku.. hati ini sakit.. aku tidak bisa menggambarkan rasa sakit ini. Rasanya aku ingin mencabut jantungku dari dada ini agar rasa sakit ini hilang.
Painfull accidents
If I’ll be in a world alone
Without you
Just…
Take me away
With you
Suatu yang indah perlahan mulai runtuh
POV – Helena
Apa yang baru saja kulakukan? Apakah aku memang setega itu?
Tubuhnya jatuh dan aku tetap berjalan pergi menjauhinya? Air mata ini tidak dapat lagi kubendung. Aku berlari sekuat tenaga ke arah toilet agar tak ada satu makhluk yang akan melihat kepiluan ini.
Aku tidak bermaksud melakukan ini semua. Aku menyayanginya. Itulah sebabnya aku memutuskan hal ini. Apakah rasa sayang ini aku tunjukan dengan tindakan yang benar? Rasanya aku ingin berlari kepadanya dan meminta saran agar kami bisa menyelesaikannya berdua. Tapi aku terlalu takut. Aku takut melihat wajahnya lagi.
*TREEEEEEEEEEENGGGGG
Bunyi bel tanda jam pelajaran berbunyi. Untuk pertama kalinya aku tidak perduli pada benda yang selalu menjadi panduanku disekolah ini.
POV – Alena
Tanpa terasa setetes airmata meluncur dari mataku. Kenapa? Aku tidak sedang merasakan kesakitan yang nyata. Aku merasakan batinku yang sedang sakit. Ada apa ini? Kulihat kearah bangku saudari ku. Dan benar saja, sosoknya tidak ada. Segera aku menyeka tangis ini agar tak ada yang menyadarinya dan meminta izin dari guru agar bisa ke toilet sebentar. Kudengar isak tangis yang jarang kudengar. Terakhir kali kudengar tangis ini saat kami masih kecil.. ku ketok pintu itu dengan lembut dan memanggil namanya.
“Helena, kamu kenapa?” kataku dengan kecemasan yang tidak bisa dibendung lagi
Kulihat pintu itu terbuka dan kulihat mata saudariku telah lebam oleh air yang tak henti-hentinya terjun dari matanya yang lembut.
“Helena, aku tidak mengerti jika kamu Cuma menangis, jelaskanlah padaku”
Dia menyeka air matanya lalu mencuci mukanya dan berlalu tanpa penjelasan sepatah katapun padaku. Aku mengikutinya ke kelas dan tatapan teman-teman kami seakan tak lepas dari kembaranku ini.
POV – Xavier
Aku melihat ibu Sely melangkah masuk kedalam UKS. Dia melihatku yang terbaring di tempat tidur dengan tatapan mata yang tak bisa ditebak. Seakan tugasnya telah sukses. Apakah dia sukses membuatku terlihat seperti laki-laki lemah?
Dia berjalan membelakangi ku untuk mengambil sesuatu dilemari obat.
“kau baik-baik saja?” katanya memecah keheningan
Aku hanya menganguk walau kutahu dia tidak bisa melihat respon ku karena dia sedang membelakangi ku.
Kemudian dia duduk disamping tempat tidurku dan menyerahkan botol minyak kayu putih yang diambilnya tadi dari lemari putih.
“setelah saat ini kujamin semua akan baik-baik saja” katanya dengan percaya diri seakan tahu semua tentang diriku.
Sebenarnya apa yang baru saja dia perbuat?
-To be continued-
Author : Tiara Yukari