SHORT STORY
POV : Author
90% Fiction!
Note : saya masih pemula, jadi mohon di mengerti bila masih banyak kekurangan. dan tentu saja, saya sangat mengaharapkan koreksi dari semuanya.
----
Sejak hari itu, Hingga saat terakhir
---
Jarum
jam terus berdetak tanpa mengenal lelah. Detik demi detik berlalu. Menit demi
menit berlalu. Jam demi jam berlalu. Hari,bulan bahkan tahun telah berlalu
semenjak hari itu. Gadis itu hanya mendesah pelan. Ia kembali merasakan sesuatu
yang membuat dadanya sesak selama 4 tahun belakangan ini. Kembali ia
mengarahkan matanya yang biru itu ke arah jam dinding yang tergantung manis di
dinding putih yang mulai menua seiring berjalannya waktu. Sudah jam 3. Gadis
ini kembali mendesah. Sebaiknya dia beranjak dari tempat itu sebelum hari
semakin sore. Gadis bermata biru itu pun mengemas barangnya dan segera
meninggalkan perpustakaan itu. Ia melangkah perlahan keluar dari ruangan itu
dan hendak menuju lapangan parkir.
“Carina!”
Langkah
Gadis ini terhenti.
“Carry!”
Gadis
itu berusaha mencari asal suara tersebut. Tapi tak ada seorang pun yang ia
lihat disekeliling.
“Carina
Lyra!”
Terdengar
suara yang entah berasal dari mana memanggil nama Gadis ini berkali-kali. Gadis
itu mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan mencari tahu siapa dan dimana
orang yang memanggil namanya dari tadi. Degup jantungnya berdetak jauh lebih
cepat dari detak normalnya. Pikiran negatif mulai mengerubungi otaknya. Gadis
ini bergegas meninggalkan tempat tersebut. Langkah kecil dari Gadis ini
lama-lama berubah menjadi Langkah yang sangat cepat seiring dengan rasa takut
yang mulai terasa dalam dirinya. Tiba-tiba tangan kanannya dipegang seseorang
dari arah belakang.
“KYAAAAAAAAAAAAAA!”
Gadis
ini berteriak spontan. Histeris. Itulah yang terjadi.
“Kamu
kenapa sih Carry?!”
Kata-kata
itu keluar dari suara yang sepertinya dikenalnya disertai suara desahan nafas
akibat kelelahan dari orang tersebut. Gadis tersebut bertanya-tanya apakah
hantu yang mengejarnya dari tadi adalah kenalannya.
Gadis
ini kemudian membalikan badannya dan mendapatkan dirinya lebih shock dari apa
yang diperkirakannya.
***
5 tahun yang lalu, Gadis itu
mengambil sebuah keputusan yang entah benar atau tidak untuk kehidupannya
kedepan. Saat itu ia masih remaja dan ia hanya sangat menyukai musik. Yang ia
sukai saat itu hanya musik. Sampai saat ia mengambil keputusan itu. Dengan
beraninya ia mengisi formulir pendaftaran anggota baru untuk kegiatan
ekstrakulikuler Marchingband disekolah barunya. Saat itu Gadis ini tidak memiliki
seorang temanpun. Tapi entah mengapa bagi Gadis ini itu adalah sebuah berkah
dari Tuhan. Masuk ke lingkungan baru dan belum ada yang mengenalnya adalah
sesuatu yang ia sangat tunggu-tunggu. Ia baru saja berumur 11 tahun saat itu
tapi ia sangat ingin mengubah cara hidupnya dari hari-hari yang lalu. Tapi
kalian tahu? Gadis ini adalah gadis yang sangat amat dan mungkin pemalu akut.
Entah apa yang terjadi hingga ia memiliki keberanian untuk melakukan itu semua.
Takdir. Kata itulah yang mungkin pantas diucapkan. Gadis ini untuk pertama
kalinya melihat seorang laki-laki yang berhasil mencuri perhatiannya dalam
sekejap. Saat itu sangat jelas diingatannya, Sabtu yang cerah dengan latar
belakang sekolah yang sunyi senyap. Hanya segelintir siswa yang datang untuk
mengikuti kegiatan ekstra. Karena pada dasarnya Gadis ini adalah seorang
pemalu, tentu saja ia mengalami kegugupan yang luar biasa pada saat pengenalan
diri di depan siswa yang lainnya.
“Dek, sekarang giliranmu”
Gadis itu menatap asal suara
tersebut. Dan.. DEG!
“Ayo majulah, tidak usah malu
apalagi takut. Kami tidak suka memakan orang kok”
Katanya dan kemudian
tersenyum, yang bagi Gadis ini adalah senyum termanis yang pernah dilihatnya.
Ah! Apa sih yang diketahui seorang gadis yang baru beranjak remaja ini mengenai
perasaan suka? Tapi hebatnya senyum ini berhasil membangkitkan keberanian yang
sudah terkubur dalam diri Gadis ini semenjak ia lahir. Ia melangkah kedepan
dengan pasti dan meperkenalkan dirinya sendiri kepada semua yang berada di
lapangan sekolah saat itu.
“Kamu nantinya ingin memegang
alat apa?”
Suara dari bibir yang
menghasilkan senyum terindah itu kembali terdengar. Gadis tersebut hanya
memandangnya dengan pandangan bertanya. Sunyi sejenak. Mungkin mereka bisa
mendengar suara degupan jantung dari Gadis ini. Tatapan Gadis ini tak lepas
dari sosok yang semenjak saat itu tak bisa keluar dari pikirannya.
“Mungkin kamu ingin masuk
dalam grup colour guard?”
Seorang kakak senior menanyakan
tanpa memandang Gadis ini.
“Ah aku tahu. Ia cocok dengan
alat musik hornline”
Suara terdengar lagi sebelum
Gadis itu sempat bersuara. Kali ini dari seorang perempuan yang sedang memegang
sebuah terompet ditangannya. Gadis itu tersenyum tipis kemudian mengagukan
kepalanya.
***
Setahun berlalu semenjak Gadis
tersebut menemukan cinta pertamanya.
Laki-laki itu sangat bahkan
terlalu baik kepada Gadis ini. Tapi apa kalian tahu? Laki-laki yang sering
dipanggil Gil ini telah memiliki seseorang yang sangat disayanginya. Gadis
tersebut mengetahui hal ini bahkan semenjak hari pertama ia mengenal Gil. Orang
yang sangat disayangi Gil adalah seorang yang cantik, pintar, attractive, dan
tentu memiliki hati Gil. Sangat berbanding terbalik dengan pribadi Gadis ini.
Tentu saja Gadis tersebut menyadarinya. Orang itu adalah perempuan yang pertama
kali menyapa Gadis ini di Klub Marching yang diikutinya. Ya benar. Orang itu
adalah perempuan yang merekomendasikan Gadis ini untuk bergabung dengan grup
hornline. Perempuan itu bernama Abigail. Entah ia harus membenci atau tidak
kepada kakak seniornya itu.
Membenci Kak Abby bagi gadis
ini adalah dosa besar. Menurutnya Kak Abby tak bersalah atas rasa sayang Kak
Gil kepadanya. Tapi disisi lain Gadis ini sangat tidak menyukai apa yang ada di
depan matanya.
***
“Hey Carry, kamu mau memesan
apa?”
Suara yang sangat
dirindukannya itu memecah lamunan nostalgia gadis ini.
“Terserah. Kan yang bayar kak
Gil”
Jawab Gadis ini dengan
datarnya yang berhasil membuat ekspresi bingung pada wajah cinta pertamanya.
“Carry, kamu tidak suka ya
bertemu denganku?”
Bukan.. bukan seperti itu.
“Apa kau membenciku?”
Pertanyaan kali ini membuat
Gadis itu tercengang. Bagaimana mungkin ia bisa membenci cinta pertamanya. Tapi
rasa itulah yang dibencinya. Rasa yang tak akan pernah bisa membuatnya benci
kepada cinta pertamanya. Aneh bukan? Padahal semenjak hari pertama hingga
sekarang orang yang disayanginya ini telah memiliki banyak mantan kekasih.
“Aku tidak tahu”
Kata gadis itu dengan tatapan
kosong.
Hanya saja Gadis itu ingin
melupakan cinta pertamanya. Walaupun susah, ia telah mencobanya. Dan selama 2
tahun semenjak terakhir ia bertemu dengan Gil ia telah berhasil memberikan
cintanya kepada orang lain. Ia telah berhasil menjalani hari-hari SMA nya
dengan ceria bersama orang itu tanpa harus memikirkan Gilbert tiap malam, yang
bahkan mungkin tidak pernah memikirkan tentang dirinya. Tapi tepat pada hari
yang sama saat pertama ia bertatapan dengan Gil, ia kembali bertemu dengannya.
Inilah yang membuat dadanya sesak. Gadis itu tidak ingin melihatnya lagi, tapi
rasa rindu kepada orang ini tetap bersarang dalam dirinya.
“Lalu apa? Kenapa muka mu
kusut sedari tadi?”
Gadis itu menatap bola mata
yang sangat dirindukannya dan dan tanpa disadarinya bibirnya memasang
sesungging senyum indah untuk diberikan kepada cinta pertamanya.
Tentu saja. Laki-laki ini
memiliki kekuatan untuk melakukan itu.
“Begitu dong. Sudah lama
sekali semenjak terakhir kali aku melihat senyummu”
Gadis itu hanya tertawa kecil.
Semuanya jelas, usahanya selama ini sia-sia. Laki-laki tidak akan pernah
memberikan hatinya kembali. Saat ini gadis itu bahkan tidak memikirkan
kekasihnya yang berhasil membuatnya melupakan sejenak kenangan pahit yang ada
dalam memori kehidupannya.
“Kak Gil nanti akan akan
melanjutkan studi kemana?”
“Entahlah”
Jawabnya dengan nada tidak
pasti
“Heum?”
Perasaan gadis itu entah
mengapa mulai merasakan sesuatu yang salah.
“Aku akan kuliah di Korea
Selatan”
Apa?! Kemana katamu??
Tak terasa air mata telah memenuhi bola mata
biru gadis itu
“Hey.. Kamu kenapa?”
Gadis itu merasakan usapan
lembut pada pipinya.
“Tolong.. Jangan lakukan itu
lagi”
Kata Gadis itu seiring air
mata mengalir dengan derasnya.
Gadis itu hanya berharap satu
hal semenjak detik pertama ia tersenyum kembali kepada Gil beberapa saat yang
lalu. Tetaplah bersama Gadis itu. Tapi apa? Gil akan meninggalkannya lagi. Dan
kali ini ketempat yang sangat jauh. Yang bahkan bulan tidak bisa berada
ditempat yang sama saat mereka akan memandang kelangit nanti.
***
Gilbert Christo hanya terdiam
menyaksikan orang yang sangat disayanginya.Ia tidak tahu apa yang harus
dilakukannya. Gadis kecil itu sudah beranjak dewasa sekarang. Ia tidak bisa
membohongi semuanya lagi. Ia menyukainya. Bahkan mencintainya. Ini berbeda
dengan rasa sayang kepada semua perempuan yang pernah mendampingi hidupnya.
Melihat Gadis ini menangis membuat hatinya seperti diiris pisau yang sangat
tajam. Ia tahu sebutan yang cocok untuknya. KEJAM! Ia tahu bahwa Gadis ini
menyukainya, bahkan saat pertama ia menatap bola matanya saat mereka berdua
masih remaja. Tapi ia malah memilih untuk memaksakan rasa sayangnya kepada
orang lain. Dia tahu itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, hanya saja
ia tidak ingin menyakiti Gadis itu. Saat itu ia hanyalah seorang anak laki-laki
yang baru saja mengenal cinta. Tak ada yang diketahui dengan pasti oleh nya
mengenai menyayangi seorang perempuan. Tapi saat ini ia tidak mau lagi melepas
begitu saja cinta yang telah diberikan Gadis ini sedari dulu. Dia ingin agar
gadis itu mengikutinya ke Korea. Dia hanya mau Carina Lyra seorang.
“Maaf kak Gil, aku harus
segera pergi”
Kata gadis itu sambil mengusap
sisa air mata di wajahnya.
“Tapi...”
Gadis itu telah beranjak tanpa
menghiraukan lagi dirinya. Ia pun segera bangkit dari tempat duduknya dan
berlari mengejar Carina yang mulai jauh dari pandangannya.
“Carina tunggu! ada yang harus
kukatakan!”
Iya. Setidaknya gadis itu
harus tahu tentang perasaan ini. Tapi terlambat, Carina sudah tak terlihat
lagi. Saat Gadis itu sedang berlari menjauhi dirinya dan hendak menyebrang
menembus jalan raya yang ramai, tubuhnya yang mungil terpental entah kemana
akibat tabrakan sebuah truk besar. Gilbert hanya bisa terpaku dengan apa yang
baru saja dilihatnya. Mukanya menjadi pucat seketika.
***
Suasana hari itu sangatlah
suram. Semua tampak mengenakan pakaian bernuansa gelap. Tangisan terdengar
dimana-mana. Gil saat itu duduk disamping peti putih itu dengan tatapan kosong.
Jiwanya entah telah melayang kemana. Saat itu yang ia percayai adalah Gadis
yang sedang tertidur manis di hadapannya bukanlah Gadis yang ia cintai. Dia
masih belum percaya dengan kenyataan bahwa Carina telah pergi. Kenapa??? Kenapa
harus secepat itu Tuhan? Gil mulai menyalahkan semuanya kepada Tuhan. Kemudian
tetes demi tetes air mata keluar dari matanya. Carina bahkan belum tahu bahwa
mereka saling mencintai. Ini salahku. Detik itu dia mulai menuduh dirinya
sendiri. Karena dia hari itu Carina menangis dan karena dia pula Carina harus
mengalami itu semua. Andai coretan hidup ini bisa dihapus dan ditulis kembali.
Dia akan mengatakan bahwa dia hanya akan berkuliah disini dengan senyum paling
manis agar Carina tidak terpukul hari itu dan harus mengalami hal yang
seharusnya tidak terjadi. Carina seharusnya tidur dengan manis selamanya
bersama dirinya nanti saat mereka sudah menua dimakan waktu. Apakah ada cara
agar bisa membuat Gadis ini kembali menghirup nafas kehidupan? Saat itu Gilbert
hanya menginginkan satu hal. Ia ingin menukar umur hidupnya dengan Carina. Jika
itu bisa....
***
Tolong bukalah matamu dan
tersenyum padaku. Xavier berusaha sekuat
mungkin agar tidak terlihat lemah didepan kekasihnya pada detik-detik terakhir
sebelum peti ditutup. Carina, aku tahu kau hanya berakting bukan? Ayo bukalah
matamu. Kau tahu, ini tidak lucu carry. Kau bahkan belum menepati janjimu. Kau
belum bisa memberikan rasa sayangmu sepenuhnya kepadaku. Aku tahu hingga saat
terakhir kau masih memikirkan dia bukan? Dan aku tahu, kau tertidur disini saat
ini juga semuanya karena dia bukan? Batin xavier yang saat ini sudah tak kuat
lagi menahan tangis saat melihat peti putih yang berisikan Gadis yang
dicintainya yang telah terbujur kaku itu perlahan-lahan di bawa ke mobil
jenazah.