I dont want to leave
I love you, even that
Cannot be said
Our era
Is about to close
Forever
Lebih gelap dari kegelapan
POV – Author
Mendengar sampai sejauh ini kisah yang seharusnya ditutupi membuat diriku merinding. Ada sejuta pertanyaan yang melintas bagai siluet. Salah satunya, mengapa ibu Kak Xavier langsung percaya akan apa yang dia dengar? Atau, darimana dia mendengar itu? Atau yang paling mengherankan, kenapa Ibu Sely juga tidak mengambil langkah bijak dalam permasalahan ini? Apa yang dilakukan adalah sebuah cara penghancuran Kasih. Padahal Tuhan kita sendiri membuat setiap pribadi manusia yang ada dibumi dengan ‘penuh cinta kasih’ bagaimana sampai dia bisa merusak bahkan membunuh perasaan kasih diantara kedua insan manusia yang masih dalam pertumbuhan ini.
Dan dalam tingkatan ini, muncul seorang pemeran baru dalam kisah ironis ini.. seorang pria yang bisa dikatakan masuk dalam peran antagonis jika kisah ini hanya sebuah karya fiksi. Tapi sayangnya kenyataan lebih memihak saat ini. Kutulis cerita ini dengan imajinasi yang bervariasi, pengembangan setiap karakater bisa dikatakan fiksi, tapi ketahuilah cerita ini bisa digambarkan lebih ironic dibanding kisah Romeo dan Juliet yang dipuja-puja sekian banyak pecinta sastra dimuka bumi bahkan lebih gelap dari kegelapan. Jika kisah ini ditulis secara pribadi dari setiap karakter yang terlibat kurasa ini akan menjadi kisah yang akan mematahkan mitos Romeo dan Juliet. Tapi sayangnya...
POV – Helena
Sebulan telah berlalu. Hubunganku dengan Xavier sampai saat ini hanya sekedar Ketua Osis dan Anggota osis. Kesibukan acara ulang tahun sekolah sedikit membantu ku melupakan kejadian terburuk dalam masa muda ku. Saat ini aku telah memiliki pacar lain. Namanya Alexander. Aku dijodohkan dengannya oleh teman-teman marchingband ku. Lebih tepatnya aku sekali lagi ‘dipaksa’ dan sekali lagi aku ‘pasrah’. Alexander orang yang baik tapi rasa cinta ku sudah sepenuhnya diambil oleh Xavier. Xavier... sudah lama aku tak melihatnya tersenyum. Mukanya selalu tampak serius semenjak hari itu. Dia tidak meminta penjelasan sedikit pun padaku. Tidak ada lagi sesungging senyum yang terukir dimulutnya. Rasanya aku ingin memprotes kembali kepada Ibu nya Xavier bahwa apa yang dia paksakan malah membuat anaknya menderita. Aku.. aku semenjak kejadian tersebut sesekali tersenyum karena kekuatan yang diberikan oleh saudariku. Terkadang disaat aku tersenyum tipis, gerombolan adik kelas yang lewat seakan menyinggungku. Ya .. aku pantas dibenci. Aku sudah seperti seorang.. bukan seperti Iblis kedua setelah Ibu Sely. Ketegaan yang kulakukan sebulan yang lalu tidak hanya membuat Xavier sakit tapi ini terjadi juga pada fans Xavier dan sekarang mereka seperti membenciku. Seperti tanpa dosa aku tersenyum hari ini. Aku pantas berada di api neraka saat ini juga.
Momen yang paling kutunggu terjadi setelah kejadian menyeramkan yang terjadi sebulan yang lalu. Tanpa disengaja aku yang sedang membantu untuk menyukseskan acara sekolah berpegangan tangan dengan Xavier. selama kami memiliki hubungan, hubungan yang sebenarnya tidak ingin aku akhiri, Xavier tidak pernah menyentuhku. Dan saat ini kami berpegangan tangan. Kurasakan tangan dinginnya memegangku yang hampir terjatuh dengan lembut. Sesaat setelah membantu aku berdiri dia berlalu tanpa sepatah kata. Hatiku sakit. Tapi akulah yang menyebabkan ini semua.
POV – Alexander
Saat kudengar kabar bahwa Helena sudah tidak berpacaran lagi dengan Xavier hatiku sangat senang. Kalian tahu? Bukan Cuma Xavier yang mencintainya. Aku juga sangat mencintai Helena. Saat kulihat mereka berdua saat itu di lapangan, rasanya aku ingin menonjok laki-laki itu. Tapi niat itu kuurungkan. Ada pengecualian bagi Xavier. dia memang pantas buat Helena. Tapi jika dia membuat Helena menangis saat itu juga aku akan merebutnya walau dengan paksaan. Dan hari itu Helena masuk kelas dengan mata lebam akibat airmata. Tanpa ragu lagi tekadku untuk merebutnya sudah bulat. Dengan meminta bantuan teman-teman marching yang sudah lama mengetahui perasaanku ini jadilah sekarang Helena milikku. Walaupun begitu aku tidak pernah merasakan aura kebahagian jika dia bersama denganku. Berbeda saat ia dengan Xavier. tak henti-hentinya ia tersenyum di hadapan laki-laki itu. Dan saat ini aku melihat mereka bersentuhan yang mengakibatkan wajah pacarku menjadi merona. Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan dia di ambil kembali. Dan setan pun membisikan hal yang keji kepadaku.
POV – Xavier
Aku baru saja memegangnya. Kulihat kembali tanganku yang beruntung itu. Dingin dan bergetar. Kejadian tadi membuat dadaku tak henti-hentinya bersuara.
Wajahnya menjadi merah.
Kupegang bibirku dan tanpa terasa sebuah senyum tercipta saat itu dari diriku.
Akankah masih ada kesempatan?
Aku mengunci ruang osis dan melompat kegirangan. Kebodohan macam apa yang telah melandaku? Aku tidak perduli.
Tok..tok..tok..
Dengan shocknya aku menghentikan kegiatan aneh yang sedang kulakukan dan berusaha menyembunyikan perasaan gembira agar semua terlihat seperti biasa.
Kubuka pintu itu, dan kulihat teman baikku berdiri dihadapanku.
Alexander menyerahkan kertas yang penuh dengan coretan perintah yang ditunggu untuk diselesaikan. Baiklah, sebagai ketua osis aku akan menyelesaikan hari ini juga. Mumpung suasana hati sedang bagus.
Naik turun tangga. Kapan sekolah ini menggunakan Lift?
Tapi syukurlah semuanya telah selesai. Aku duduk di bangku taman yang menghadap lapangan basket untuk mengatur pernapasan agar asma itu tidak datang lagi sambil melihat langit senja yang terlalu orange hari itu.
Kulihat sosok Alex datang mendekat sambil membawa bola basket. Aku menyeka keringat yang dari tadi mengucur seakan aku baru saja mandi tanpa mengeringkan tubuh.
“Battle yuk..” ajaknya dengan wajahnya yang semangat
Melihatnya terbakar dengan api semangat aku juga menjadi semangat. Saat berdiri dari bangku itu aku merasakan sedikit pusing. Aku mengerjap sekali dan syukurlah rasa itu hilang. Aku pun mengambil bola itu dari tangan alex dan berlari menuju lapangan. Sosok yang aneh tertangkap penglihatanku. Kulihat sosok tinggi besar gelap seakan berasal dari kegelapan yang terdalam sedang berdiri di bangku tadi dan memperhatikan ku. Matanya hanya tertuju padaku dan saat itu aku teringat pada Helena. Ada yang ingin kuucapkan.
“Yossshh.. kita mulai!” teriak Alexander. Kuurungkan niat itu. Akan kukatakan pada Helena besok saja. Lagipula dia sekarang sudah pulang. Sosok tadi masih berdiri disana dalam diam dan tidak bergerak sesenti pun.
Kami bermain. Permainan ini terasa sangat seru.
Tim ku sudah berhasil mencetak angka 20-9 atas tim Alex dan itu butuh perjuangan keras. Alex sangat lihai hari ini. Semua berbeda, padahal seharusnya aku bisa mengalahkannya dengan mudah. Aku capek. Satu kali masuk gol lalu aku akan berhenti bermain karena sesak ini.. dadaku mulai terasa sesak. Ring nya semakin dekat. Aku akan melakukan lay up saat sosok tadi tiba-tiba berada dihadapanku dan berkata “sudah saatnya”
Mendengar sampai sejauh ini kisah yang seharusnya ditutupi membuat diriku merinding. Ada sejuta pertanyaan yang melintas bagai siluet. Salah satunya, mengapa ibu Kak Xavier langsung percaya akan apa yang dia dengar? Atau, darimana dia mendengar itu? Atau yang paling mengherankan, kenapa Ibu Sely juga tidak mengambil langkah bijak dalam permasalahan ini? Apa yang dilakukan adalah sebuah cara penghancuran Kasih. Padahal Tuhan kita sendiri membuat setiap pribadi manusia yang ada dibumi dengan ‘penuh cinta kasih’ bagaimana sampai dia bisa merusak bahkan membunuh perasaan kasih diantara kedua insan manusia yang masih dalam pertumbuhan ini.
Dan dalam tingkatan ini, muncul seorang pemeran baru dalam kisah ironis ini.. seorang pria yang bisa dikatakan masuk dalam peran antagonis jika kisah ini hanya sebuah karya fiksi. Tapi sayangnya kenyataan lebih memihak saat ini. Kutulis cerita ini dengan imajinasi yang bervariasi, pengembangan setiap karakater bisa dikatakan fiksi, tapi ketahuilah cerita ini bisa digambarkan lebih ironic dibanding kisah Romeo dan Juliet yang dipuja-puja sekian banyak pecinta sastra dimuka bumi bahkan lebih gelap dari kegelapan. Jika kisah ini ditulis secara pribadi dari setiap karakter yang terlibat kurasa ini akan menjadi kisah yang akan mematahkan mitos Romeo dan Juliet. Tapi sayangnya...
POV – Helena
Sebulan telah berlalu. Hubunganku dengan Xavier sampai saat ini hanya sekedar Ketua Osis dan Anggota osis. Kesibukan acara ulang tahun sekolah sedikit membantu ku melupakan kejadian terburuk dalam masa muda ku. Saat ini aku telah memiliki pacar lain. Namanya Alexander. Aku dijodohkan dengannya oleh teman-teman marchingband ku. Lebih tepatnya aku sekali lagi ‘dipaksa’ dan sekali lagi aku ‘pasrah’. Alexander orang yang baik tapi rasa cinta ku sudah sepenuhnya diambil oleh Xavier. Xavier... sudah lama aku tak melihatnya tersenyum. Mukanya selalu tampak serius semenjak hari itu. Dia tidak meminta penjelasan sedikit pun padaku. Tidak ada lagi sesungging senyum yang terukir dimulutnya. Rasanya aku ingin memprotes kembali kepada Ibu nya Xavier bahwa apa yang dia paksakan malah membuat anaknya menderita. Aku.. aku semenjak kejadian tersebut sesekali tersenyum karena kekuatan yang diberikan oleh saudariku. Terkadang disaat aku tersenyum tipis, gerombolan adik kelas yang lewat seakan menyinggungku. Ya .. aku pantas dibenci. Aku sudah seperti seorang.. bukan seperti Iblis kedua setelah Ibu Sely. Ketegaan yang kulakukan sebulan yang lalu tidak hanya membuat Xavier sakit tapi ini terjadi juga pada fans Xavier dan sekarang mereka seperti membenciku. Seperti tanpa dosa aku tersenyum hari ini. Aku pantas berada di api neraka saat ini juga.
Momen yang paling kutunggu terjadi setelah kejadian menyeramkan yang terjadi sebulan yang lalu. Tanpa disengaja aku yang sedang membantu untuk menyukseskan acara sekolah berpegangan tangan dengan Xavier. selama kami memiliki hubungan, hubungan yang sebenarnya tidak ingin aku akhiri, Xavier tidak pernah menyentuhku. Dan saat ini kami berpegangan tangan. Kurasakan tangan dinginnya memegangku yang hampir terjatuh dengan lembut. Sesaat setelah membantu aku berdiri dia berlalu tanpa sepatah kata. Hatiku sakit. Tapi akulah yang menyebabkan ini semua.
POV – Alexander
Saat kudengar kabar bahwa Helena sudah tidak berpacaran lagi dengan Xavier hatiku sangat senang. Kalian tahu? Bukan Cuma Xavier yang mencintainya. Aku juga sangat mencintai Helena. Saat kulihat mereka berdua saat itu di lapangan, rasanya aku ingin menonjok laki-laki itu. Tapi niat itu kuurungkan. Ada pengecualian bagi Xavier. dia memang pantas buat Helena. Tapi jika dia membuat Helena menangis saat itu juga aku akan merebutnya walau dengan paksaan. Dan hari itu Helena masuk kelas dengan mata lebam akibat airmata. Tanpa ragu lagi tekadku untuk merebutnya sudah bulat. Dengan meminta bantuan teman-teman marching yang sudah lama mengetahui perasaanku ini jadilah sekarang Helena milikku. Walaupun begitu aku tidak pernah merasakan aura kebahagian jika dia bersama denganku. Berbeda saat ia dengan Xavier. tak henti-hentinya ia tersenyum di hadapan laki-laki itu. Dan saat ini aku melihat mereka bersentuhan yang mengakibatkan wajah pacarku menjadi merona. Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan dia di ambil kembali. Dan setan pun membisikan hal yang keji kepadaku.
POV – Xavier
Aku baru saja memegangnya. Kulihat kembali tanganku yang beruntung itu. Dingin dan bergetar. Kejadian tadi membuat dadaku tak henti-hentinya bersuara.
Wajahnya menjadi merah.
Kupegang bibirku dan tanpa terasa sebuah senyum tercipta saat itu dari diriku.
Akankah masih ada kesempatan?
Aku mengunci ruang osis dan melompat kegirangan. Kebodohan macam apa yang telah melandaku? Aku tidak perduli.
Tok..tok..tok..
Dengan shocknya aku menghentikan kegiatan aneh yang sedang kulakukan dan berusaha menyembunyikan perasaan gembira agar semua terlihat seperti biasa.
Kubuka pintu itu, dan kulihat teman baikku berdiri dihadapanku.
Alexander menyerahkan kertas yang penuh dengan coretan perintah yang ditunggu untuk diselesaikan. Baiklah, sebagai ketua osis aku akan menyelesaikan hari ini juga. Mumpung suasana hati sedang bagus.
Naik turun tangga. Kapan sekolah ini menggunakan Lift?
Tapi syukurlah semuanya telah selesai. Aku duduk di bangku taman yang menghadap lapangan basket untuk mengatur pernapasan agar asma itu tidak datang lagi sambil melihat langit senja yang terlalu orange hari itu.
Kulihat sosok Alex datang mendekat sambil membawa bola basket. Aku menyeka keringat yang dari tadi mengucur seakan aku baru saja mandi tanpa mengeringkan tubuh.
“Battle yuk..” ajaknya dengan wajahnya yang semangat
Melihatnya terbakar dengan api semangat aku juga menjadi semangat. Saat berdiri dari bangku itu aku merasakan sedikit pusing. Aku mengerjap sekali dan syukurlah rasa itu hilang. Aku pun mengambil bola itu dari tangan alex dan berlari menuju lapangan. Sosok yang aneh tertangkap penglihatanku. Kulihat sosok tinggi besar gelap seakan berasal dari kegelapan yang terdalam sedang berdiri di bangku tadi dan memperhatikan ku. Matanya hanya tertuju padaku dan saat itu aku teringat pada Helena. Ada yang ingin kuucapkan.
“Yossshh.. kita mulai!” teriak Alexander. Kuurungkan niat itu. Akan kukatakan pada Helena besok saja. Lagipula dia sekarang sudah pulang. Sosok tadi masih berdiri disana dalam diam dan tidak bergerak sesenti pun.
Kami bermain. Permainan ini terasa sangat seru.
Tim ku sudah berhasil mencetak angka 20-9 atas tim Alex dan itu butuh perjuangan keras. Alex sangat lihai hari ini. Semua berbeda, padahal seharusnya aku bisa mengalahkannya dengan mudah. Aku capek. Satu kali masuk gol lalu aku akan berhenti bermain karena sesak ini.. dadaku mulai terasa sesak. Ring nya semakin dekat. Aku akan melakukan lay up saat sosok tadi tiba-tiba berada dihadapanku dan berkata “sudah saatnya”
Gone too soon
I never thought I'd see
A single day without you
The things we take for granted
We can sometimes lose...
Duka akibat kebencian
POV – Author
“saat itu ia tiba-tiba jatuh saat akan melakukan lay up. Dan saat teman-temannya menempelkan tangan dibawah hidungnya, sudah tidak ada lagi tarikan nafas” ucap Kimberly dengan nada yang sedikit dipelankan karena didepan kelas sudah ada guru
“apakah mereka membawanya ke rumah sakit?”
“tentu saja. Tapi seperti yang kalian ketahui, lokasi sekolah dan rumah sakit sangatlah jauh. Walaupun sesampainya disana dia langsung dibawah ke ICU tapi nyawa sudah tidak ada lagi ditubuhnya”
“teruuuss???????” hawa penasaran berkeliaran diantara kami
“dokter malah bertanya dimana Jiwa kak Xavier diambil Tuhan. Karena saat sampai dirumah sakit, badanya sudah membiru”
“tapi mengapa mereka mengatakan bahwa ia meninggal di rumah sakit?”
“itu dia. Mereka tidak ingin cerita ini diungkap kepermukaan. Itulah mengapa hanya 5% warga SMP termasuk para guru yang mengetahuimya”
“dan itulah mengapa aku tidak tahu kalau Kak Xavier pernah ada disekolah itu sebagai ketua osis” kataku dengan penuh penyesalan. Entah apa yang kusesalkan. Mungkin karena aku tidak pernah melihat ketampanan Kak Xavier.. mungkin?
“dan sekarang banyak orang menganggap bahwa kak Alex lah penyebab kak Xavier tidak bisa bernafas lagi”
“ya kurasa itu sesuatu yang logis”
“memang terlihat seperti dia yang membunuhnya”
“apa yang terjadi pada kak Helena??”
Kisah ini belum lengkap tragisnya bila belum dilanjutkan..
POV – Alena
Rumah ini penuh dengan nuansa hitam..
Bisakah aku menganggapnya hanya sebuah halusinasi?
Aku tahu dia hanya berpura-pura. Aku mohon bukalah matamu!
Kulihat tangannya telah membiru, wajahnya sangatlah pucat, dan.. matanya.. tidak dia hanya tertidur! Dia pasti akan bangun kembali dan tepat pada saat itu juga semuanya akan ku katakan.
Xavier, kau tahu? Bukan hanya Helena yang merasakan pedih jika kau sudah tak ada lagi disini. Tapi aku juga. Kau tidak pernah menyadarinya. Dan kurasa tak akan pernah. Aku mencintaimu. Kumohon jangan bercanda. Bukalah matamu dan tunjukan sesungging senyum agar mereka semua menghentikan isak tangis mereka.
Tak kurasa aku telah menangis didepan peti putih yang sudah ditutup. Menangis tanpa suara.
Ini terakhir kalinya aku akan melihatnya. Hari ini adalah ibadah pelepasan. Mereka semua bodoh! Mereka tidak tahu bahwa Xavier hanya ber akting! Aku tahu itu! Atau mungkin ia hanya dipinjam sebentar oleh Tuhan dan akan segera dikembalikan pada kita.
Atau apakah sekarang aku yang mulai tidak bisa mengendalikan akal pikiranku?
Kulihat keseluruh penjuru ruangan. Penuh dengan kepiluan yang amat mendalam. Kulihat saudariku. Dia tak kalah histeris dengan ibunda Xavier. seakan mereka berdua sedang berlomba untuk membuat tangisan terkuat sepanjang masa. Ibunda Xavier terlihat sangat menyesal. Aku tidak tahu penyesalan apa dalam dirinya. Mungkin karena Xavier adalah anak satu-satunya keluarga ini? Aku tidak tahu
Sedangkan saudariku, aku tahu penyesalannya. Kami berdua kembar. Kami memiliki ikatan batin. Itulah mengapa aku bisa merasakan perasaan yang sama. Perasaan kami terhadap Xavier. luka ini, akankah bisa terobati?
“saat itu ia tiba-tiba jatuh saat akan melakukan lay up. Dan saat teman-temannya menempelkan tangan dibawah hidungnya, sudah tidak ada lagi tarikan nafas” ucap Kimberly dengan nada yang sedikit dipelankan karena didepan kelas sudah ada guru
“apakah mereka membawanya ke rumah sakit?”
“tentu saja. Tapi seperti yang kalian ketahui, lokasi sekolah dan rumah sakit sangatlah jauh. Walaupun sesampainya disana dia langsung dibawah ke ICU tapi nyawa sudah tidak ada lagi ditubuhnya”
“teruuuss???????” hawa penasaran berkeliaran diantara kami
“dokter malah bertanya dimana Jiwa kak Xavier diambil Tuhan. Karena saat sampai dirumah sakit, badanya sudah membiru”
“tapi mengapa mereka mengatakan bahwa ia meninggal di rumah sakit?”
“itu dia. Mereka tidak ingin cerita ini diungkap kepermukaan. Itulah mengapa hanya 5% warga SMP termasuk para guru yang mengetahuimya”
“dan itulah mengapa aku tidak tahu kalau Kak Xavier pernah ada disekolah itu sebagai ketua osis” kataku dengan penuh penyesalan. Entah apa yang kusesalkan. Mungkin karena aku tidak pernah melihat ketampanan Kak Xavier.. mungkin?
“dan sekarang banyak orang menganggap bahwa kak Alex lah penyebab kak Xavier tidak bisa bernafas lagi”
“ya kurasa itu sesuatu yang logis”
“memang terlihat seperti dia yang membunuhnya”
“apa yang terjadi pada kak Helena??”
Kisah ini belum lengkap tragisnya bila belum dilanjutkan..
POV – Alena
Rumah ini penuh dengan nuansa hitam..
Bisakah aku menganggapnya hanya sebuah halusinasi?
Aku tahu dia hanya berpura-pura. Aku mohon bukalah matamu!
Kulihat tangannya telah membiru, wajahnya sangatlah pucat, dan.. matanya.. tidak dia hanya tertidur! Dia pasti akan bangun kembali dan tepat pada saat itu juga semuanya akan ku katakan.
Xavier, kau tahu? Bukan hanya Helena yang merasakan pedih jika kau sudah tak ada lagi disini. Tapi aku juga. Kau tidak pernah menyadarinya. Dan kurasa tak akan pernah. Aku mencintaimu. Kumohon jangan bercanda. Bukalah matamu dan tunjukan sesungging senyum agar mereka semua menghentikan isak tangis mereka.
Tak kurasa aku telah menangis didepan peti putih yang sudah ditutup. Menangis tanpa suara.
Ini terakhir kalinya aku akan melihatnya. Hari ini adalah ibadah pelepasan. Mereka semua bodoh! Mereka tidak tahu bahwa Xavier hanya ber akting! Aku tahu itu! Atau mungkin ia hanya dipinjam sebentar oleh Tuhan dan akan segera dikembalikan pada kita.
Atau apakah sekarang aku yang mulai tidak bisa mengendalikan akal pikiranku?
Kulihat keseluruh penjuru ruangan. Penuh dengan kepiluan yang amat mendalam. Kulihat saudariku. Dia tak kalah histeris dengan ibunda Xavier. seakan mereka berdua sedang berlomba untuk membuat tangisan terkuat sepanjang masa. Ibunda Xavier terlihat sangat menyesal. Aku tidak tahu penyesalan apa dalam dirinya. Mungkin karena Xavier adalah anak satu-satunya keluarga ini? Aku tidak tahu
Sedangkan saudariku, aku tahu penyesalannya. Kami berdua kembar. Kami memiliki ikatan batin. Itulah mengapa aku bisa merasakan perasaan yang sama. Perasaan kami terhadap Xavier. luka ini, akankah bisa terobati?
GROW UP
You left me here so unexpected
You changed my life
I hope you know
cause now I'm lost
So unprotected
2008
POV – Author
“Semenjak kejadian itu. Banyak yang telah berubah.” Kata-kata itu meluncur dengan tatapan mata kosong
“berubah apanya?”
“Kak Helena berubah sifat. Dia terlihat sama persis dengan kembarannya. Bagai cermin dan bayangannya”
Setahun setelah tragedi yang tak pernah di inginkan itu terjadi kak Helena mulai tergoda untuk mencoba masuk dalam lingkungan anak sekolah yang berkategori gaul. Dia bergabung dalam geng yang bernama_________________________
POV – Helena
Sudah lama ya Xavier..? apa kabar mu disana?
Kutatap batu nisan putih itu lalu mataku menangkap sebuah foto. Xavier yang tersenyum. Bahkan aku tidak sempat melihat senyumnya untuk yang terkakhir kali. Setetes air mata mengalir diantara sudut bibirku yang sedang tersenyum tipis.
Aku akan segera berada disana Xavier, tunggulah aku.
Kubersihkan rerumputan hijau yang mulai tumbuh di sekitar tempat peristirahatan orang yang kusayangi ini. Ditempat ini terdapat tubuh kaku nya yang telah tertidur lelap selama kurang lebih setahun. Ditempat yang pengap dan gelap, pria tampan ini menunggu ku untuk bersama dengannya lagi. Aku berharap suatu saat tubuhku akan terbaring seperti boneka tepat disamping gundukan tanah ini.
“Helena, ayo pulang, ini sudah jam setengah 3” terdengar suara saudariku dari kejauhan
Kuletakan bunga yang kubawa tadi diatas nisan ini.
“sampai jumpa Xavier. sampai jumpa di surga” bisikku perlahan
2009
POV – Alena
Yaaaampun! Tugas-tugas ini bisa membuat rambutku rontok seketika!
Tahun senior ini membuatku sedikit gila! Bagaimana tidak? Tugas bak pegunungan himalaya! Sungguh teramat banyak! Ditambah ujian akhir nasional!!!!! Arghhhhh
“astaga, kamu kenapa?” wajah kembaranku terlihat kaget karena aku membongkar semua buku yang ada di meja sampai berserakan kemana-mana
“pusing ahhh!”
Kulihat dia hanya tertawa dengan tindakanku ini. Ku nyalakan TV untuk menghilangkan kebosanan sedangkan dia masih saja berkutat dengan buku-buku tebal itu.
Tik tok tik tokk.. entah sudah berapa jam aku menonton layar kaca dan akhirnya mata ini sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Dan aku pun terlelap
POV – Helena
Kulihat wajah cantik saudariku ini tertidur dengan nyenyak walau baru 5menit dia pergi ke pulau neverland. Ujian akhir sekolah yang sedang kami hadapi memang agak susah. Tapi aku yakin dia bisa melewati itu semua. Kumatikan layar TV dan........... dibelakang ku .. XAVIER??
Aku mengerjapkan mataku.. pantulan bayangan itu masih disana.. sekali lagi aku mengerjapkan mata dan kali ini wajahnya lebih jelas..
“ Xa.. Xavi..? Xavier??”
Tak ada jawaban.
Kuberanikan diri untuk menengok kebelakang. Dan hasilnya membuat bulu kudukku merinding.
Tak ada siapa pun. Hanya jendela yang entah mengapa terbuka perlahan.
Bayangan itu terlihat sekali lagi di pantulan kaca jendela.
Kali ini aku yakin itu Xavier.
Tak berubah, tampan.
Dia mengenakan seragam putih biru. Padahal seharusnya jika ia masih berada dan bernafas bersama ku saat ini, dia mungkin telah mengenakan pakaian putih abu-abu.
Ku melangkah dengan pasti ke arah luar mengikuti bayangan itu dan tepat saat kakiku melompat keluar dari jendela...... kesadaranku hilang.
POV – kepala desa
Malam yang dingin..
Kunyalakan senter agar bisa melihat jalan dengan benar.
“Bapa Abraham mempunyai banyak sekali anak-anak. Aku anakNya Engkau juga. Mari Puji Tuhan”
Siapa itu? Terdengar suara perempuan dekat perbatasan desa. Suara yang familiar.
Terlintas pikiran negatif di benakku. Tapi dengan segera aku menghapusnya walau tetap saja bulu kuduk ku tetap berdiri dengan tegapnya.
Kudekati pagar tinggi yang penuh dengan duri tajam di atasnya. Kuperhatikan dengan saksama.
Apa itu?
Ada yang menggantung.
Kudekati..
Dan ternyata...
POV – Alena
“HELENAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” aku berteriak , menangis , tapi apalah daya agar saudari ku ini bisa bernafas kembali.
Tubuhnya terkujur lemah. Lobang di lehernya terlihat sangat mengenaskan.
Saudariku ini tewas kemarin malam. Tak pernah terpikirkan oleh ku bahwa itu tawa terkakhirnya untukku.
Tuhan, Kau telah mengambil dua orang yang sangat kusayangi! Dan kau ambil saudariku dengan cara yang tragis.
Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Menyalahkan Tuhan adalah sesuatu yang sangat salah. Aku tahu bahwa rencana Tuhan Indah Pada WaktuNya. Tapi bagaimana mungkin ini akan menjadi indah lagi tanpa kehadiran saudari yang sama persis denganku yang telah hidup berdampingan denganku selama 14tahun ini?
Sekali lagi aku berada didalam ruangan yang penuh dengan isak tangis.
Ada yang berbeda, kali ini rumah ku penuh dengan sejumlah wartawan yang bukan hanya datang untuk melayat tetapi juga untuk mengorek informasi mengenai bagaimana dan mengapa saudari ku bisa sampai tewas tergantung dia atas pagar yang sangat tinggi dan berduri itu.
Aku telah kehilangan cermin hidupku yang bahkan lebih indah dari diriku sendiri..
POV – Author
“kematiannya sangat tidak wajar”
“ya itulah mengapa sampai hal ini masuk dalam halaman koran” jawabku
“tapi mengapa kasus kematian Kak Xavier malah tidak di ekspos sama sekali?”
“aku tidak tahu. Mungkin karena itu terjadi karena kesalahpahaman dan salah perhitungan orang-orang di sekolah itu” ucap Kimberly dengan tatapan menerawang
“lagipula wartawan akan lebih tertarik dengan cerita yang mengerikan”
“maksudmu?”
“kasus ini sangat lah ironis. Bagaimana tidak? Seorang perempuan, cantik dan pintar bisa mengakhiri hidupnya dengan begitu tragisnya”
“ya, ia meninggal hanya mengenakan pakaian dalam dan lehernya tertancap duri yang dipasang dipagar perbatasan desa itu”
“itu pasti sakit” jawabku dengan nada yang seakan bisa merasakan kesakitan yang dialaminya saat itu
“ya iyalah! Tapi yang mengherankan, bagaimana sampai dia bisa naik ke pagar itu?”
“berdasarkan koran yang kubaca, katanya dia diperkosa lalu digantung disitu”
“entahlah” jawab mereka hampir bersamaan
“kalian mau tahu sesuatu tidak”
Apa lagi yang belum kami ketahui? Terlalu banyak informasi tragis yang kami peroleh hari ini
“saat beberapa alumni , termasuk kak Alena dan Kak Alex datang kesekolah untuk mengambil ijazah aku sempat melihat arwah kak Helena sedang mengikuti mereka dari belakang”
“ha? Bagaimana rupanya????” tanyaku dengan level penasaran yang memuncak
“dia mengenakan seragam sekolah putih biru dan tanpa mengenakan alas kaki. Wajahnya cantik tapi hanya matanya yang membuat dirinya terlihat seram. Mata yang memiliki lingkaran hitam dibawah nya beserta wajah pucat pasi sukses mengalahkan wajahnya yang rupawan dan malah terlihat seperti setan yang sedang murka. Tatapan mata tajam terus diarahkan kepada mantan dan kembarannya”
Betapa kisah cinta yang tragis dan ironis, Seperti kopi.. ada manis dan pahit.. hitam kelam.. dan akan dingin jika tidak segera dinikmati.
Bahkan ada beberapa siswa yang sering melihat Kak Xavier dan Kak Helena berjalan bersama di koridor sekolah.
Sampai saat ini hanya sebagian kecil yang tahu soal RAHASIA kejam ini.
Aku mohon maaf jika tulisan ini melebihi batas keaslian sejarah.
Aku berharap dua insan manusia yang pernah mengukir sebuah kisah kasih manis yang tragis diterima dan dipelihara Tuhan Di surga . AMIN
No comments:
Post a Comment